Jumat, 14 Desember 2012

makalah tasawuf falsafi

BAB I
PENDAHULUAN

Dewasa ini banyak perbincangan dikalangan orang-orang awam dan para pelajar akan sebuah realita terhadap pengaflikasian tentang tasawuf. Yang mungkin sampai saat ini masih menjadi perdebatan antara pihak-pihak yang memiliki kepentingan tersendiri.
Oleh karna itu penulis mencoba menuliskan sedikit dari beberapa poin yang sering di jadikan tema perdebatan tersebut. Diantaranya adalah tasawuf falsafi, karna tasawuf falsafi adalah salah satu pijakan yang penting dengan terealisasinya sebuah pemikiran akan Tuhan dan mahluk ciptaannya.
Sebelum kita lebih jauh, alangkah bagusnya jika penulis memulai dari tasawuf itu sendiri. Dan kata tasawuf selalu tidak lepas dengan kata sufi yang berasal dari kata Safa dalam arti suci dan sufi adalah orang yang disucikan. Dan memang, kaum sufi banyak berusaha menyucikan diri mereka melalui banyak melaksanakan ibadat, terutama salat dan puasa. Ada juga yang mengatakan berasal dari kata Suf (kain wol). Dalam sejarah tasawuf, kalau seseorang ingin memasuki jalan tasawuf, ia meninggalkan pakaian mewah yang biasa dipakainya dan diganti dengan kain wol kasar yang ditenun secara sederhana dari bulu domba. Pakaian ini melambangkan kesederhanaan serta kemiskinan dan kejauhan dari dunia.
Dengan demikian, sangatlah wajar jika dalam pencapaiannya memiliki banyak rintangan karna tasawuf itu sendiri menawarkan tema-tema dalam meraih kesempurnaan. Dan penulis akan lebih mempokuskan pembahasannya terhadap tasawuf falsafi yang sering mendapat penyudutan dari beberapa pihak sebagai penganut ajaran sesat.









LATAR BELAKANG

Berbicara tentang Tasawuf, maka yang ada adalah pembahasan yang berkaitan dengan ketuhanan. Namun sebelum berangkat kesana perlu kita ketahui bahwa  Tasawuf itu sendiri memiliki beberapa aliran, seperti tasawuf Akhlaqi, tasawuf Sunni dan tasawuf Falsafi. Ada pula yang membagi tasawuf kedalam tasawuf 'Amali, tasawuf Falsafi dan tasawuf 'Ilmi.
berbagai macam ajaran filsafat yang telah mempengaruhi para tokohnya.
Berangkat dari tasawuf falsafi, maka kita tidak akan lepas dari ide dasarnya yaitu Pantheisme, dan Pantheisme itu sendiri berasal dari kata yunani, yaitu pan yang berarti semua dan theos yang berarti Tuhan. Jadi pantheisme adalah  paham  yang menganggap Tuhan adalah immanen “ada di dalam” makhluk-makhluk. Dengan kata lain Tuhan dan alam adalah sama.
Kaum sufi falsafi menganggap bahwasanya tiada sesuatupun yang wujud kecuali Allah, sehingga manusia dan alam semesta, semuanya adalah Allah. Mereka tidak menganggap bahwasanya Allah itu zat yang Esa, yang bersemayam diatas Arsy. Dalam tasawuf falsafi, tentang bersatunya Tuhan dengan makhluknya, setidaknya terdapat beberapa term yang telah masyhur yaitu ; hulul, wadah al~wujud dan ittihad.





















BAB II
Pembahasan

Tasawuf Falsafi

Jika kita berbicara tentang Tasawuf, maka yang ada adalah pembahasan yang berkaitan dengan ketuhanan. Namun sebelum berangkat kesana perlu kita ketahui bahwa  Tasawuf itu sendiri memiliki beberapa aliran, seperti tasawuf Akhlaqi, tasawuf Sunni dan tasawuf Falsafi. Ada pula yang membagi tasawuf kedalam tasawuf 'Amali, tasawuf Falsafi dan tasawuf 'Ilmi. Seperti yang telah penulis baca dari beberapa buku, yang baru bisa di pahami penulis adalah Tasawuf Falsafi. Karena secara garis besar, tasawuf falsafi adalah tasawuf yang ajaran-ajarannya memadukan antara visi mistis dan visi rasional. Tasawuf ini menggunakan terminologi filosofis dalam pengungkapannya, yang berasal dari berbagai macam ajaran filsafat yang telah mempengaruhi para tokohnya.
Berangkat dari tasawuf falsafi, maka kita tidak akan lepas dari ide dasarnya yaitu Pantheisme, dan Pantheisme itu sendiri berasal dari kata yunani, yaitu pan yang berarti semua dan theos yang berarti Tuhan. Jadi pantheisme adalah  paham  yang menganggap Tuhan adalah immanen “ada di dalam” makhluk-makhluk. Dengan kata lain Tuhan dan alam adalah sama.
Kaum sufi falsafi menganggap bahwasanya tiada sesuatupun yang wujud kecuali Allah, sehingga manusia dan alam semesta, semuanya adalah Allah. Mereka tidak menganggap bahwasanya Allah itu zat yang Esa, yang bersemayam diatas Arsy. Dalam tasawuf falsafi, tentang bersatunya Tuhan dengan makhluknya, setidaknya terdapat beberapa term yang telah masyhur yaitu ; hulul, wadah al~wujud dan ittihad.

B. Beberapa konsep Tasauf Falsafi
1. Hulul
Hulul merupakan salah satu konsep didalam tasawuf falsafi yang meyakini terjadinya kesatuan antara kholiq dengan makhluk. Dan paham hulul ini disusun oleh Al-hallaj. Bahkan didalam sufi termonologi disebutkan :
Hulul adalah sebuah inkarnasi kata, dan ini menyiratkan bahwa berdiamnya ilahi dalam manusia yang merupakan masuknya dari satu hal ke hal lain. Dan inkarnasi ini dianggap sebagai doktrin-doktrin sesat. Karena dianggap telah merendahkan Allah, dengan menyamakan-Nya dengan dirinya yang tidak ada apa-apanya.
Dengan demikian, kata hulul berimplikasi kepada bersemayamnya sifat-sifat ke-Tuhanan kedalam diri manusia atau masuk suatu dzat kedalam dzat yang lainnya. Hulul adalah doktrin yang sangat menyimpang. Hulul ini telah disalah artikan oleh manusia yang telah mengaku bersatu dengan Tuhan. Sehingga dikatakan bahwa seorang budak tetaplah seorang budak dan seorang raja tetaplah seorang raja. Tidak ada hubungan yang satu dengan yang lainnya sehingga yang terjadi adalah hanyalah Allah yang mengetahui Allah dan hanya Allah yang dapat melihat Allah dan hanya Allah yang menyembah Allah.
Sebagai salah satu bentuk tasawuf falsafi, paham hulul memiliki landasan filosofis tertentu sebagai tempat pijakannya. Seperti Tuhan menurut pandangan Al-Hallaj adalah yang Maha Cinta dan Maha Kasih, dan cinta kasih terhadap dirinya sendiri menjadi sebab adanya semua makhluk, termasuk bani Adam adalah sebagai jelmaan Tuhan yang menciptakan semua makhluk-makhluknya itu. Dan atas dasar inilah kemudian Al-Hallaj meyakini bahwa dalam diri Tuhan ada sifat kemanusiaan yang disebut Nasut, dan pada manusia terdapat sifat Tuhan yang disebut Lahut. Dengan demikian, pada dasarnya Al-Hallaj mengakui adanya dualisme, yaitu Tuhan memiliki sifat Lahut sekaligus sifat Nasut (sifat kemanusiaan). Begitu pula manusia memiliki sifat Nasut sekaligus memiliki pula sifat Lahut (sifat keTuhanan). Dengan kerangka berfikir tersebut maka persatuan antara makhluk dengan khaliq dapat terjadi.
Beberepa ungkapan Al-Hallaj yang terdapat makna Hulul adalah sebagai berikut: Al-Hallaj pernah ditanya" Siapakah anda?, ia menjawab 'aku adalah Allah".
Diantara sya'ir Al-Hallaj yang terkenal adalah sebagai berikut:

Aku adalah Allah
Dan aku benar-benar Allah
Aku menyandang Dzat-Nya
Hingga tiada beda antara aku dengan-Nya

Aku adalah orang yang menitis
Dan yang menitis itu adalah aku
Kami adalah dua ruh yang menempati satu jasad
Ruh-Nya adalah ruhku
Dan ruhku adalah ruh-Nya
Siapakah yang melihat dua ruh
Yang menempati satu jasad

Dan hal tersebut adalah salah satu hal yang membuat semua orang terkaget dengan membawa banyak pertanyaan yang menistakan Al-Hallaj dan pemikirannya. Dan gejala pemikiran Al-Hallaj yang berupa hulul sehingga terucap dalam ungkapan-ungkapannya tersebut diatas telah ada tanda-tandanya sejak ia melaksanakan ibadah haji pertama kali ke Makkah. Ketika melaksanakan haji ia berjanji pada dirinya akan menyelesaikan umrah selama satu tahun di Masjidil Haram dengan berpuasa dan berzdikir. Pada kesempatan ini Al-Hallaj berusaha menurut caranya sendiri untuk menyatu dengan Allah SWT, dan mulai sejak itu pula Al-Hallaj menyerukan konsep hululnya itu, tanpa merasa terbebani tapi dengan keyakinan yang mendalam akan sebuah pemahaman.

2. Wahdah Al-wujud
Istilah wahdah Al-wujud sangat dekat dengan pribadi Ibnu Arabi, sehingga ketika menyebut pemikiran Ibnu Arabi seakan-akan terlintas tentang doktrin wahdah Al-wujud. Oleh karena itu dalam sub bab ini akan difokuskan pada teori Ibnu Arabi.
Wahdah Al-wujud dapat berarti, penyatuan eksistensi atau penyatuan dzat. Sehingga yang ada atau segala yang wujud adalah Tuhan (Tuhan telah bersatu dengan alam atau segala sesuatu). Wahdah Al-wujud adalah faham yang disusun oleh Ibnu Arabi. Aliran ini pada dasarnya berlandaskan pada perasaan, sebagaimana Ibnu Arabi pernah berkata;"maha suci dzat yang menciptakan segala sesuatu dan dia adalah sesuatu itu".
Dalam mengomentari pernyataan tersebut, Harun Nasution mengatakan bahwa Wahdah Al-wujud berarti kesatuan wujud, unity of  existence. Faham ini adalah kelanjutan dari faham hulul yang dibawa oleh Muhyiddin Ibnu Arabi. Dalam teori tentang wujud, Ibnu Arabi mempercayai terjadinya  emanasi, yaitu Allah menampakkan sesuatu dari wujud materi. berikut ini adalah beberapa pernyataan Ibnu Arabi yang mengandung  ide wahdah al-wujud.
"….wujud tidak lain adalah dari al-haq karena tidak ada sesuatu yang berwujud kecuali dia",
"tiada yang tampak dalam wujud melalui wujud kecuali al-haq, karena wujud itu adalah al-haq….."
Pernyataan-pernyataan Ibnu Arabi diatas menunjukan bahwa semua yang tampak, yang ada di alam semesta ini bukanlah wujud yang hakiki, bukanlah wujud yang independent, akan tetapi alam semesta ini adalah sebagai perwujudan dari wujud Allah, karena bagi Ibnu Arabi yang berwujud hanyalah kholiq.
Dalam teori wahdah  al-wujud ini, jika diri Allah terdapat wujud yang setara  hal itu akan menimbulkan dualitas wujud. Dan hal itu akan membawa pada kesyirikan. Bagi yang meyakini faham wahdah al-wujud, semua yang ada di alam semesta ini sesungguhnya hanyalah sebuah ilusi atau bayangan yang ditangkap oleh indra manusia, dimana manusia itu juga merupakan ilusi.
Pemahaman tersebut diatas ibarat seseorang yang melihat bayangannya dalam cermin. Gambar yang terlihat dalam cermin itu meskipun ada dan tampak jelas, namun sebenarnya ia hanyalah ilusi atau bayangan dari orang yang bercermin tersebut. Dan apabila seseorang bercermin dengan menggunakan beberapa cermin, maka bayangannya orang yang bercermin itupun menjadi banyak. Padahal hakikatnya adalah satu. Hal ini sebagaimana di jelaskan bahwa "wajah sebenarnya satu, tetapi jika engkau perbanyak cermin maka ia akan menjadi banyak".
Dari uraian diatas  dapat disimpulkan bahwa teori wahdah Al-wujud, yang dipelopori oleh Ibnu Arabi adalah faham yang meyakini tidak ada yang wujud kecuali Tuhan yang Esa, sedangkan alam semesta hanyalah bayangan dari Tuhan. Dengan kata lain antara kholiq dengan makhluk adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan.
Konsep wahdah Al-wujud dari Ibnu Arabi ini ditentang oleh Ibnu Taimiyah dengan ungkapan nya; "Ibnu Arabi berkeyakinan bahwa wujud hanyalah satu, wujud alam adalah wujud Allah, wujud makhluk adalah wujud kholiq dan segala sesuatu adalah perwujudan-Nya. Oleh karena itu ia zindiq.
Adalah tepat yang dikemukakan oleh ibnu taimiyah diatas, sebab Rasululloh SAW. Tidak pernah mengajarkan bahwa tidak ada yang wujud kecuali Allah, akan tetapi beliau menyerukan bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak diibadahi) kecuali Allah.
Hal ini sesuai dengan sabda Rasululloh SAW. Dari Ibnu Umar sebagai berikut :

"aku diutus untuk memerangi manusia sampai mereka mengakui bahwa tiada Tuhan melainkan Allah, dan sesungguhnya Muhammad itu utusan Allah, dan mendirikan shalat, dan mengeluarkan zakat, maka apabila mereka mengerjakan itu, terpelihara dari padaku darah dan harta mereka, kecuali menurut hukum islam dan perhitungan amal mereka terserah kepada Allah SWT.".[HR.Bukhari-Muslim].

Hadist ini secara jelas menjelaskan bahwa Rasulullah SAW. Mewajibkan seorang hamba Allah bahwasanya tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Dia (laailaha illalah) dan bukan tidak ada yang wujud kecuali Allah (laa wujuda illalah).

3. Ittihad
Pengertian ittihad sebagaimana disebutkan dalam sufi terminologi adalah, penggabungan antara dua hal yang menjadi satu. Ittihad merupakan doktrin yang menyimpang dimana didalamnya terjadi proses pemaksaan antara dua eksistensi. Kata ini berasal dari kata wahd atau wahdah yang berarti satu atau tunggal. Jadi ittihad artinya bersatunya manusia dengan Tuhan.
Tokoh pembawa faham ittihad adalah Abu Yazid Al-busthami. Menurutnya manusia adalah pancaran Nur Ilahi, oleh karena itu manusia hilang kesadaranya (sebagai manusia) maka pada dasarnya ia telah menemukan asal mula yang sebenarnya, yaitu nur ilahi atau dengan kata lain ia menyatu dengan Tuhan.
Ketika Abu Yazid sedang dalam keadaan ittihad, ia berkata ;"Aku adalah Allah, tidak ada Tuhan selain aku. Karena itu sembahlah aku. Maha suci aku, maha besar aku, aku keluar dari diri Abu Yazid sebagaimana ular keluar dari kulitnya. Tampaknya olehku bahwa sang pecinta  (al-Asyiq) dan yang dicinta (al-ma'syu) serta cinta (al-isyq) adalah satu kesatuan". Dalam ungkapan yang lain Abu Yazid berkata ; "maha suci aku, maha suci aku, alangkah maha agungnya aku ". Dan ia beliau pula di waktu yang lain ;
"Pernah Tuhan mengangkat aku dan ditegakkannya aku dihadapan-Nya sendiri. Maka berkatalah Dia kepadaku ; " hai Abu Yazid! Makhluk-ku ingin melihat engkau. Lalu aku berkata : Hiasilah aku dengan wahdaniat-Mu, pakaikanlah kepadaku pakaian ke-akuan-Mu, angkatlah aku kedalam ke-satuan-mu. Sehingga apabila makhluk-Mu melihat aku. Mereka akan berkata ;Kami telah melihat engkau. Maka Engkaulah itu dan aku tidak ada disana".
     Itulah kaum sufi falsafi, mereka meyakini bahwasannya alam semesta ini hanyalah bayangan fatamorgana dan biasan dari zat Allah. Semua yang ada ini adalah wujud Allah, jelmaan Allah. Sehingga bagi mereka (kaum sufi falsafi) manusia, jin, pepohonan, bebatuan, cacing, hewan melata, burung-burung, atau bahkan anjing dan babipun, semuanya adalah jelmaan Allah.

Analisa kritik terhadap pantheisme

Didalam kritik ini akan dikomparasikan antar pendapat-pendapat dan perkataan para tokoh sufi falsafi dengan Ayat-ayat Al-qur'an dan pendapat para ulama salafush-shalih, apakah sesuai atau tidak sesuai sehingga dapat diambil sebuah kesimpulan tentang pendapat kaum sufi falsafi tersebut.
Menurut Ujang Habibi dalam makalahnya, Pantheisme yang diyakini oleh kaum sufi falsafi adalah bertolak belakang dengan firman Allah SWT. Yang telah menetapkan bagi diri-Nya itu tidak ada sesuatu pun yang menyamai-Nya. Allah berfirman;
                         
“(dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan- pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan melihat”. (QS  Asy-syura : 11).

Ibnu Katsir dalam mentafsirkan ayat ini menyebutkan bahwa tidak ada yang serupa dengan dia dalam penciptaan dan sifat-Nya yang maha tinggi. Dan Allah SWT. Adalah zat yang tidak ada sesuatupun yang setara dengan-Nya. Mujahid mengatakan tidak ada sesuatupun dari makhluk-Nya yang akan menyaingi-Nya atau yang mendekati-Nya.
Perkataan Abu Yazid ; "Aku adalah Allah......"adalah sebuah ungkapan syirik akbar yang nyata (tidak membutuhkan pemikiran yang mendalam bagi akal sehat atas kesyirikan perkataan tersebut).
Perkataan yang menganggap bahwa "segala sesuatu yang ada di alam semesta ini adalah Allah" adalah bertentangan dengan salah satu ayat yang berbunyi :
         
"Patutkah mereka berbuat syirik [dengan menyembah kepada selain Allah] yang tidak dapat menciptakan apa-apa ? padahal sesuatu selain Allah itu adalah ciptaan-Nya" (QS Al-a'raf : 191).

Kaum tasawuf falsafi dalam usahanya mengenal Allah SWT. lebih mengedepankan pendapat akal dan dengan mengesampingkan nash-nash yang shahih. Hal ini sangat memungkinkan untuk terjadinya kesalahan dan menyimpang dari yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya SAW. didalam Al-qur'an dan as-sunnah.
Disamping itu pula, didalam konsep tasawuf  falsafi lebih mengutamakan Riyadhoh Rohaniyah sampai mencapai fana' sehingga mengenal  Allah diluarkesadaran mereka. Dan sudah pasti, mengenali sesuatu, terlebih lagi mengenal Allah di luar alam sadar maka akan tersesat.
Konsep Al-ittihd. Al-hulul dah wahdah Al-wujud jika dipandang dari sudut ilmu tauhid maka termasuk syirik. Karena ketiga konsep tersebut mensekutukan sesuatu dengan Allah SWT. dikatakan zat diri telah bersatu dengan wujud Tuhan, atau jiwa telah tenggelam, lebur menjadi satu kedalam hadhirat Tuhan atau bahkan alam semesta adalah jelmaan Tuhan. Ini jelas kesyirikan yang nyata.
Menurut aqidah islamiyah yang murni, Tuhan adalah maha Esa, bersifat dengan sifat-sifat-Nya yang sempurna, tidak dapat disekutui oleh sesuatupun. Zat,  sifat dan perbuatan Allah adalah maha Esa, tidak menerima persekutuan. Jika Allah dapat bersatu dengan manusia atau alam semesta sebagaimana anggapan dan keyakinan dalam tasawuf falsafi, maka berarti hilanglah ke-maha  Esaan-Nya, dan ini adalah mustahil bagi Allah SWT. Allah semata-mata berlainan dengan dunia real ini secara hakiki. Ia adalah pencipta makhluk. Antara Tuhan dan makhluk adalah berbeda.
Oleh sebab itu, bagaimana kedudukan Al-qur'an dan As-sunnah, jika konsep ini dibiarkan berkembang didalam Islam? Kafir disamakan dengan mukmin, fasik sama dengan taat dan bahkan hewanpun sama hakikatnya dengan Tuhan. Sungguh sangat berbahaya ketiga konsep tersebut bagi umat islam dan benar-benar sesat-menyesatkan. Ketiga konsep tersebut adalah merupakan aliran filsafat yang berasal dari agama hindu yang dimasukkan kedalam tasawuf, guna merusak Islam dari dalam.
Amat berbahaya jika kaum muslimin memandang bahwa konsep ittihad, hulul dan wahdah Al-wujud sebagai metode mendekatkan diri kepada Tuhan. Oleh karena itu Rasulullah Saw diutus ke dunia ini untuk menghancurkan  keyakinan-keyakinan semacam itu (anggapan bahwa Allah bersekutu dengan makhluk ciptaan-Nya) dan meluruskannya dengan tauhid  la ilaaha illallah, Tiada  Tuhan yang berhak disembah selain Allah.
Lain halnya dengan pendapat Harun Nasution yang mengatakan bahwa tujuan tasawuf adalah mendekatkan diri sedekat mungkin dengan Tuhan sehingga ia dapat melihat-Nya dengan mata hati bahkan rohnya dapat bersatu dengan Roh Tuhan. Filsafat yang menjadi dasar pendekatan diri itu adalah, pertama, Tuhan bersifat rohani, maka bagian yang dapat mendekatkan diri dengan Tuhan adalah roh, bukan jasadnya. Kedua, Tuhan adalah Maha Suci, maka yang dapat diterima Tuhan untuk mendekati-Nya adalah roh yang suci. Tasawuf adalah ilmu yang membahas masalah pendekatan diri manusia kepada Tuhan melalui penyucian rohnya.










BAB III
Penutup
    Demikian lah makalah yang penulis susun, yang tentunya masih banyak sekali kekurangannya. Dan di dalam penyusunan makalah ini penulis mengambil beberapa refrensi disebabkan ilmu pengetahuan penulis yang masih sangatlah dangkal, sehingga penulis mengambil refrensi dari beberapa sumber. Mudah-mudahan apa yang telah penulis usahakan ada manfaatnya bagi khususnya kepada penulis pribadi dan para mahasiswa UIN Bandung jurusan TH. Penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Hasan sebagai dosen pembimbing yang telah memberikan arahan tentang penyusunan makalah ini sehingga sangat membantu proses penyusunan makalah ini. Dan tak lupa penulis ucapkan kepada semua pihak yang mendukung tersusunannya makalah ini.




Bandung, 12 Desember 2012
                                        Penyusun,





REFERENSI
Abdurrahman Abdul Kholiq, Penyimpangan-penyimpangan Tasawuf, Jakarta, 2001
Ali Mudofir, Kamus Teori Dan Aliran dalam Filsafat Dan Teologi, Yogyakarta, 1996
Atang Abd. Hakim dan Jaih Mubarok, Metodologi Studi Islam, Bandung, 2000
Gilani Kamran, Ana Al-Haq (Menyingkap Teosofi Al-Hallaj), Surabaya: Risalah Gusti, 2001 Hamka, Tasawuf- Perkembangan dan Pemurniannya, Jakarta: Panjimas, 1993
Harun Nasution, Filsafat dan Mistisisme Dalam Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1995
Ibnu Arabi, Al-Futuhat Al-Makkiyah, ditahqiq oleh usman Yahya, 1972
Kusdin, Bandung: Pustaka Hidayah, th. 2002, cet. 1
Ihsan Ilahi Zdahir, Dirasat Fit Tasawuf, Jakarta: Dar al-Haq, 2001
M. Kholis Nafis, Konsep Wahdatul Wujud Ibn 'Arabi, th. 2002
M. Sobirin dan Rosihan Anwar, Kamus Tasawuf, Bandung: Remaja Rosda Karya, 2000
Muniron, Pandangan Al-Ghazali Tentang Ittihad Dan Hulul, Jurnal Pemikiran Islam Paramadina, Jakarta: paramadina, 1999
Yunasril Ali, Membersihkan Tasawuf dari Syirik, Bid'ah dan Khurafat, Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1987

1 komentar:

  1. Maaf sebelumnya, tapi dari membaca tulisan anda dapat disimpulkan bahwa anda mengenal tasawwuf itu seperti sibuta mengenal gajah. Ketika sibuta pegang belalai maka sibuta berkata "gajah itu panjang". Ketika sibuta pegang telinga maka dia berkata "gajah itu lebar". Dan ketika dia terinjak gajah sibuta berkata "gajah itu kejam". Padahal bukan gajah yang kejam, tapi sibutalah yg tak dapat melihat bahwa tempatnya berdiri adalah tempat yang biasa dilintasi oleh gajah-gajah.

    Anda mengaku tidak berilmu. itu artinya anda tidak tahu pasti apa itu tasawwuf sebenarnya. karena anda pun mengetahuinya lewat goresan-goresan yang tak dapat anda pahami.

    Dari itu saya sarankan kepada anda untuk berguru langsung pada ahlinya, ini agar anda tidak berkepanjangan memandikan diri dengan dosa sebab memfitnah para wali-wali allah yang dimuliakan oleh allah swt.

    BalasHapus